Memikul Gelar

~Memikul Gelar~

Aku malu pada mereka.
Iya, mereka yang memilih untuk tetap ada di desa demi bakti kepada orang tua.
Sedang aku?
Dengan sigapnya meninggalkan rumah dengan dalil akan kesuksesan.
Melangkah dengan kesombongan
Mengantarkanku pada jendela pembaruan.

Pembaruan apa?
Hatiku kian bertanya pada nalar pikirku yang kian buntu.
Dalil kesuksesanku memberontak untuk segera ku akhiri pendidikan ini.

Kian hari kujalani dengan Kuliah tepat waktu, belajar yang giat, tak perlu beradaptasi dengan orang yang akan memperlambat prosesku menuju kesuksesan.

Pikiranku hanya ingin sukses,
Pulang kampung bawa gelar dan menjadi kebanggan orang-orang.
Sepicik itukah otak ku berputar?

Waktupun telah terjawab.
Kepulanganku membawa warna pada keluarga.
Tapi  rasanya warna itu memudar dalam kehidupanku.
Aku terus mencari jawabannya
namun tak kunjung jua kutemukan.
Rasanya ingin kuakhiri saja duniaku.

Perenungan yang giat kulakukan tiap fajar menyingsing.
Apa sebenarnya yang menjadi ketertolakanku pada dunia pekerjaan?
Apakah Nilaiku tak cukup untuk menjadi bukti atas pendidikanku?

Batinku mulai mengeruhkan
Pertanyaan akan pekerjaan Merupakan hal yang lumrah bagi orang yang sudah menyandang gelar sarjana.
Mulut tetangga bagaikan boomerang untuk memecahkan gendang telingaku.
Bagaimana tidak?
Gelar yang ku pikul terlalu berat bila tak berguna.
Kesuksesanku terlalu jauh untuk aku gapai dengan kesombongan.

kesadaraanku pun tak mampu untuk kembali mengulang masa silam.
Menutup persahabatan dengan orang-orang selalu menjadi ritual yang tak pernah ku hapus.
Keterlenaanku tentang kata Sukses membuatku hilang ingatan akan jalan yang sesungguhnya.

Sebab banyak jalan untuk menuju sukses.
Seorang sarjana pun tak selamanya menduduki parlemen serta ruang-ruang yang ber-AC serta canda-ria agar menjadi seseorang yang terpandang.

Seorang sarjana juga wajib
mencakul tanah, mendayung sampan,
Serta memikul tanggung jawab.

Ambon, 2 Mei 2020

Komentar